Fisioterapi.umsida.ac.id – Kabar membanggakan datang dari Program Studi S1 Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi (FIKP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Dosen Fisioterapi, Dr Widi Arti SFis MKes AIFO, resmi menyandang gelar Doktor Bidang Ilmu Kedokteran dari Universitas Airlangga setelah berhasil menyelesaikan rangkaian studi doktoralnya dan menjalani Ujian Disertasi Terbuka pada 16 Juli 2026.
Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa komitmen terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dapat terus diwujudkan meski harus menjalankan berbagai peran dalam kehidupan.
Bagi Dr Widi, gelar doktor bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk menghadirkan kontribusi yang lebih besar bagi dunia pendidikan, penelitian, dan pelayanan kesehatan.
Perjuangan Panjang Menjalani Berbagai Peran

Perjalanan menuju gelar doktor tidak dilalui dengan mudah.
Dr Widi mengungkapkan bahwa proses studinya berlangsung selama 3 tahun 7 bulan, sejak diterima sebagai mahasiswa Program Doktor pada 30 Januari 2023 hingga menyelesaikan Ujian Disertasi Terbuka pada Juli 2026.
Selama masa studi, ia harus mampu menjalankan berbagai tanggung jawab secara bersamaan.
Baca Juga: UMSIDA Menang Juara 1 KISI 2025 Berkat Aplikasi SAINS SKATE SUPPORT
“Tantangan terbesar tentu menjaga konsistensi di tengah berbagai peran sebagai istri, ibu, dosen, sekaligus mahasiswa S3,” ungkapnya.
Berbagai hambatan juga sempat mewarnai proses penyelesaian disertasinya.
Mulai dari pergantian topik penelitian, revisi yang dilakukan berulang kali, hingga penolakan publikasi jurnal menjadi pengalaman yang harus dihadapi dengan penuh kesabaran.
Namun, menurutnya, setiap tantangan justru menjadi proses pembelajaran yang membentuk mental lebih kuat.
Kesulitan tersebut mengajarkannya arti ketekunan, konsistensi, dan keyakinan bahwa setiap usaha akan memberikan hasil apabila dijalani dengan sungguh-sungguh.
Riset Cedera Olahraga untuk Pengembangan Fisioterapi

Disertasi yang dikembangkan Dosen Fisioterapi tersebut berfokus pada cedera olahraga sepatu roda serta intervensi fisioterapi.
Penelitian tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu kesehatan olahraga sekaligus memperkaya praktik fisioterapi yang berbasis bukti ilmiah.
Ia berharap hasil risetnya tidak hanya bermanfaat bagi dunia kesehatan, tetapi juga menjadi referensi dalam pengembangan pembelajaran di Umsida, khususnya pada bidang fisioterapi dan kedokteran olahraga.
Cek Juga: Fisioterapi Umsida Hadirkan Pakar Fisioterapi Samarinda Bahas Visceral Physiotherapy
Setelah resmi menyandang gelar doktor, Widi memiliki visi untuk memperkuat kualitas pembelajaran di Program Studi Fisioterapi.
Salah satu fokus yang akan dikembangkan adalah menghadirkan materi pembelajaran yang lebih interaktif melalui pendekatan berbasis riset, media visual, dan teknologi digital.
Selain itu, ia ingin membangun budaya penelitian yang semakin kuat di lingkungan kampus dengan memperluas kolaborasi antara dosen dan mahasiswa.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam penelitian sejak dini akan melatih kemampuan berpikir kritis sekaligus meningkatkan kualitas lulusan.
Konsistensi Jadi Kunci Meraih Mimpi

Di balik keberhasilan tersebut, Widi menilai kemampuan mengatur prioritas menjadi kunci utama dalam menjalani berbagai peran. Baginya, kehidupan tidak selalu dapat dijalankan secara bersamaan dalam porsi yang sama.
“Kuncinya adalah skala prioritas. Tidak mungkin semua ‘kompor sumbu’ menyala sekaligus. Ada saatnya keluarga menjadi fokus utama, ada saatnya pekerjaan, dan ada saatnya studi,” jelasnya.
Komunikasi yang baik dengan keluarga serta disiplin dalam mengelola waktu menjadi bekal penting yang membantunya menyelesaikan studi tanpa mengesampingkan tanggung jawab lainnya.
Melalui pencapaiannya ini, Widi juga memberikan motivasi kepada mahasiswa maupun rekan sejawat agar tidak ragu memiliki cita-cita tinggi. Ia menegaskan bahwa perjalanan meraih gelar doktor memang membutuhkan proses panjang, tetapi setiap langkah yang dijalani akan membawa seseorang semakin dekat dengan impiannya.
“Jangan takut bermimpi besar. Konsistensi, doa, dan dukungan orang-orang terdekat adalah bahan bakar utama. Ingatlah, perjalanan panjang bukan tentang seberapa cepat sampai, tetapi seberapa kuat kita bertahan,” pesannya.(Elfirarm)


















