Fisioterapi.umsida.ac.id – Webinar fisioterapi bertajuk “From Start Line to Finish Line: Physiotherapy Strategies for Better Running Performance” yang membahas strategi peningkatan performa pelari melalui pendekatan latihan berbasis ilmu fisioterapi.
Dalam kegiatan tersebut, Bagas Anjasmara, STr Ft MFis CDNP, dosen Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKP Umsida).
Salah satu pemateri dengan membawakan topik “Preparing Lower Body for Runners: Exercise Prescription for Performance Enhancement.”
Materi tersebut membahas pentingnya persiapan fisik tubuh bagian bawah melalui latihan yang tepat agar pelari mampu meningkatkan performa sekaligus mengurangi risiko cedera.
Memahami Tuntutan Tubuh Saat Berlari
Bagas menjelaskan bahwa aktivitas berlari bukan sekadar menggerakkan kaki secara berulang, tetapi merupakan proses pengelolaan gaya yang terjadi secara terus-menerus pada satu kaki secara bergantian.
Dalam setiap fase berlari, tubuh harus mampu melakukan empat fungsi utama.
Yaitu menyerap gaya (absorb force), menjaga stabilitas (stabilize), menghasilkan dorongan (produce force), serta mengembalikan energi untuk membantu pergerakan berikutnya.
Baca Juga: Fisioterapi Umsida Jadi Tim Medis di Sidoarjo Run & Camp 2025 untuk Dukung Kesehatan Masyarakat
Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi dasar penting bagi pelari karena setiap langkah memberikan beban besar pada tubuh.
Oleh karena itu, latihan pendukung bagi pelari perlu diarahkan untuk meningkatkan kemampuan otot, sendi, dan jaringan tubuh dalam menghadapi tuntutan aktivitas lari.
Ia menekankan bahwa program latihan tidak dapat diberikan secara sama kepada seluruh pelari.
Kebutuhan latihan harus disesuaikan dengan karakteristik aktivitas yang dilakukan.
Seperti pelari sprint yang membutuhkan kekuatan dan daya ledak tinggi, pelari jarak jauh yang membutuhkan efisiensi gerakan dan daya tahan otot, maupun pelari trail yang memerlukan kemampuan kontrol tubuh serta toleransi terhadap beban eksentrik.
Latihan Kekuatan dan Daya Ledak Jadi Kunci Performa Pelari

Dalam pemaparannya, Bagas menjelaskan bahwa latihan kekuatan merupakan bagian penting dalam mendukung performa lari.
Kekuatan membantu tubuh menghasilkan gaya secara lebih efektif, sedangkan latihan power membantu tubuh menghasilkan gaya tersebut dalam waktu yang lebih cepat.
Latihan seperti squat, Romanian deadlift (RDL), hip thrust, step-up, hingga calf raise dapat menjadi contoh latihan yang mendukung kemampuan lower body pelari.
Selain itu, latihan unilateral seperti split squat dan single-leg RDL juga penting karena aktivitas berlari melibatkan pola gerakan satu kaki secara bergantian.
Bagas juga menjelaskan pentingnya memperhatikan otot betis dan soleus karena bagian tersebut berperan dalam menyerap energi, menyimpan energi elastis, hingga menghasilkan dorongan ketika berlari.
Selain latihan kekuatan, latihan plyometric juga dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan reaktif tubuh.
Melalui latihan seperti counter movement jump, bounding, maupun pogo jump, pelari dapat melatih koordinasi neuromuskular serta kemampuan tubuh menghasilkan tenaga secara cepat.
Cek Juga: Bolehkah Keseleo Dipijat? Ini Penjelasan Medis yang Perlu Diketahui
Fisioterapi Bantu Pelari Berlatih Lebih Tepat dan Aman
Bagas menegaskan bahwa latihan tambahan bagi pelari harus berfungsi sebagai pendukung, bukan menggantikan latihan lari utama. Program latihan yang baik perlu dimulai dari proses asesmen untuk mengetahui kebutuhan dan keterbatasan seorang atlet.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan meliputi jarak latihan, intensitas, riwayat cedera, kekuatan otot, kemampuan kontrol satu kaki, hingga mobilitas tubuh.
Melalui pendekatan fisioterapi, pelari dapat memperoleh program latihan yang lebih terarah dengan memperhatikan dosis, progresi, dan kemampuan tubuh dalam menerima beban.
Ia juga menjelaskan pentingnya pemanasan sebelum berlari. Pemanasan tidak hanya bertujuan meningkatkan suhu tubuh, tetapi juga mempersiapkan mobilitas, aktivasi otot, koordinasi gerakan, hingga kesiapan tubuh menghadapi aktivitas utama.
Melalui webinar ini, mahasiswa dan peserta memperoleh pemahaman bahwa peningkatan performa olahraga tidak hanya bergantung pada intensitas latihan, tetapi juga bagaimana tubuh dipersiapkan secara ilmiah.
Dengan pendekatan fisioterapi yang tepat, pelari dapat berlari lebih efisien, meningkatkan kemampuan fisik, serta menjaga tubuh tetap sehat dalam menghadapi berbagai tantangan olahraga.(Elfirarm)

















